Worl Heart Day 2021

Berikut Kami Sampaikan Link Zoom Masih perbaikan…..   Supported by...

read more

HALALBIHALAL DAN CME XXV IDI CABANG KOTIM

...

read more

Tidak Kekurangan, Indonesia Justru Kelebihan Tenaga Dokter Umum

Tidak Kekurangan, Indonesia Justru Surplus Tenaga Dokter Umum. Masalah pelayanan kesehatan di Indonesia tidak terjadi karena kurangnya tenaga kesehatan dokter umum. Justru, Indonesia memiliki surplus dokter umum. Itu sebabnya lulusan Fakultas Kedokteran  setiap tahunnya akan dibatasi lewat sistem kuota. Hal ini disampaikan Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan, Kementerian Kesehatan, drg Usman Sumantri, Msc. “Sebenarnya tenaga kesehatan kita secara nasional sangat memadai bahkan berlebih. Tapi kalau distribusi ada yang menumpuk di satu tempat dan jarang di satu tempat. Distribusi yang tidak baik menjadi tidak cukup,” ujar Usman dalam temu media di Jakarta, Jumat (5/4/2019). Usman menambahkan tahun ini diperkirakan terdapat 12 ribu lulusan sarjana kedokteran dari 78 Fakultas Kedokteran yang ada di Indonesia. Jumlah ini menurutnya sudah membludak sehingga kedepan Kemenrisdikti akan membatasi jumlah lulusan Fakultas Kedokteran. “Jadi lulusan FK nanti diberlakukan kuota. Misal tahun ini kuotanya 200 nanti ada kriteria yang ditetapkan sehingga lulusan FK 200 orang saja. Sudah ada 12 ribu lulusan dokter. Sehingga sekarang dikuotakan. Supaya produksi nggak terlalu banyak dan kualitasnya bagus,” imbuh dia. Usman mengatakan bahwa dengan adanya sistem asuransi Jaminan Kesehatan Nasional, mendorong munculnya klinik-klinik swasta baru. Diharapkan klinik tersebut menyerap lulusan dokter umum yang kini membludak. Di satu sisi, program Nusantara Sehat diharapkan bisa memeratakan distribusi dokter di daerah-daerah yang minim dokter umum dan tenaga kesehatan lainnya seperti di Sulawesi Barat, NTT, Maluku Utara, Sulawesi Tengah, NTB, Gorontalo, Papua, Papua Barat, Lampung, Jateng, Kalimantan Utara, dan Bengkulu. “Jalan keluar redistribusi. Ini persoalan utama kita sejak lahir otonomi daerah. Kesulitan menempatkan satu tenaga kesehatan ke tempat lain. Sejak dulu bicara puskesmas bicara dokter, perawat, bidan. Di puskesmas sekarang kelebihan bidan, kelebihan perawat yang nggak ada tenaga kesehatan preventif,” tandasnya. Sumber : suara.com...

read more

CME 24 IDI CABANG KOTAWARINGIN TIMUR

...

read more

Pertama Kalinya, Ikatan Dokter Indonesia Bakal Punya Lembaga Riset

Selain memiliki ketua dan anggota baru, kepengurusan Ikatan Dokter Indonesia periode 2018-2021 juga memiliki program baru, salah satunya membentuk Lembaga Riset. Disampaikan dr Marhaen Hardjo M Biomed PhD, Ketua Lembaga Riset IDI, dibentuknya lembaga riset ini dilatarbelakangi karena teknologi pelayanan kesehatan dan kedokteran mengalami kemajuan dan mendorong para dokter untuk berkompetisi. “IDI merasa perlu melakukan inisiasi membentuk lembdokteraga penelitian untuk mengembangkan penelitian di dunia kedokteran. Melalui lembaga penelitian ini, IDI akan memberikan warna baru dalam perkembangan riset di tanah air,” ujar dr Marhaen di sela-sela pelantikan PB IDI 2018-2021 di Jakarta, Sabtu (8/12/2018). Lembaga riset IDI ini kata dr Marhaen, bertujuan untuk meningkatkan kompetensi pelayanan kedokteran, mengejar ketertinggalan penguasaan teknologi kedokteran, mengembangkan inovasi pelayanan kedokteran, meningkatkan daya saing dan mengangkat marwah dokter Indonesia serta mengupayakan penggunaan hasil riset sebagai dasar pengambilan kebijakan dalam sektor kesehatan. “Lembaga ini merupakan bentuk komitmen dari PB IDI untuk pengembangan riset di tanah air. Memasuki era digital 4.0 yang kita perlukan adalah mempunyai big data. Kita harus mengcover studi yang tidak tercover misalnya kita nanti akan mengembangkan stem cell untuk anti aging dimana kita tidak hanya sebagai follower,” tambah dia. Kedepannya, kata dr Marhaen, seluruh anggota IDI harus memiliki kesadaran untuk melakukan riset demi menunjang pelayanan kesehatan di Indonesia. Sementara itu, dalam kesempatan yang sama Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, SpOG(K), MPH selaku Advisory Board Lembaga Riset IDI mengatakan kedepannya Ia berharap hasil riset tim IDI bisa digunakan untuk menetapkan kebijakan kesehatan terutama di bidang preventif, promotif. “Kita akan mengembangkan model diagnostik biomarker berbasis data klinis dan genetik pasien Indonesia. Agar kita bisa mencegah di hulu sehingga generasi muda tidak menderita penyakit degeneatif di masa mendatang,” tambah dia. Hadirnya lembaga riset ini didukung oleh PT Kalbe Farma Tbk. Dalam kesempatan yang sama, dr. Michael Bujung Nugroho, Direktur PT Kalbe Farma Tbk, pihaknya rencananya akan mendukung aktivitas lembaga penelitian ini dalam hal kerjasama pengembangan jurnal penelitian, pemberian penghargaan bagi proposal dan hasil penelitian kesehatan terbaik bagi dokter di Indonesia serta dukungan program penelitian lainnya. “Akan ada tim kecil yang mendorong para dokter untuk melakukan uji klinis atau riset. Kita juga akan bekerjasama membangun media atau majalah untuk mempromosikan hasil riset para dokter. Di akhir adalah awarding, jadi bagaimana dokter yang memberi kontribusi terbaiknya diberikan penghargaan sehingga lebih termotivasi lagi dalam melayani masyarakat,” tandas dia. Kalbe melalui anak perusahaan PT Hexpharm Jaya juga menyelenggarakan HJ Learning Forum yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan wawasan kepada para dokter untuk memahami manajemen klinik terutama klinik pratama agar dapat mendukung program pemerintah (JKN). Kegiatan ini telah dilakukan di berbagai kota di Indonesia....

read more

Presiden Jokowi Buka Muktamar IDI ke-30 IDI, Di Samarinda

Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Widodo menghadiri Muktamar ke-30 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI) di Samarinda Convention Hall, Samarinda, Kalimantan Timur. Pantauan di lokasi, Jokowi dan Iriana tiba sekitar pukul 15.05 WITA disambut oleh Ketua Umum PB IDI – Prof. Dr. Ilham Oetomo Marsis, Sp.OG,. Begitu masuk ke lokasi acara, peserta muktamar langsung mengerubuti Jokowi. Mereka berebut foto selfie dan bersalaman dengan Jokowi. Seperti biasa, Jokowi meladeni mereka dengan ramah. Hampir 15 menit Jokowi diajak selfie dan salaman oleh peserta muktamar. Selanjutnya acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, hymne IDI dan IIDI. Tema Muktamar ke-30 IDI dan IIDI adalah Reformasi tentang Sistem Pendidikan dan Pelayanan Kesehatan. “Saya pertama ingin mengucapkan terima kasih atas kedatangan Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara ke acara ini. Selain itu selamat datang kepada para dokter yang tergabung dalam IDI dan juga isteri yang tergabung dalam IIDI,” kata Prof Ilham Oetomo Marsis, Kamis (25/10). “Bapak Presiden, ada sekitar 1.500 dokter dari seluruh Indonesia yang hadir di muktamar ini. Dalam muktamar ini bagaimana kita menciptakan visi ketahanan nasional dalam era revolusi industri 4.0. Kami juga akan mengubah organisasi kami jadi modern dan bermanfaat,” lanjut dia. Prof. Marsis kemudian berharap target Indonesia ke depan yaitu Indonesia Emas bisa tercapai. Tak hanya itu, mereka juga berharap pemerintah bisa mencapai target Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). “Kita mempunyai target harus mencapai 22 persen bonus demografi untuk mencapai Indonesia Emas. Ini tentu suatu hal yang tidak bisa didiamkan. Kita bisa belajar dari beberapa negara seperti Inggris, Thailand, dan Taiwan,” ucap Prof. Marsis.   Sumber...

read more
error: Content is protected !!