Mahasiswa Kedokteran Se Makassar Tuntut Menkes RI Dicopot

MAKASSAR, TRIBUN TIMUR.COM - Puluhan mahasiswa kedokteran dari berbagai perguruan tinggi di Makassar yang menggabungkan diri dalam Koalisi Sejawat Indonesia menggelar aksi unjuk rasa di jembatan Fly Over, Jl Urip Sumoharjo, Makassar, Jumat (30/8/2013). Dengan mengenakan jas almater kampus, jas merah (Unhas), biru (UMI, Makassar), dan jas warna hijau (Universitas Muhammadiyah,Makassar), para mahasiswa tersebut menuntut Menteri Kesehatan RI Nafsiah Mboi dicopot dari jabatannya. Nafsiah dituding telah melecehkan profesi dokter di depan publik atas perkataanya bahwa seorang dokter yang tidak bisa lulus murni supaya jadi pengusaha saja. Pernyataan Menkes tersebut dinilai para demontran yang tengah menjalani kuliah di fakultas kedokteran tersebut sangat mencoret nama baik kedokteran. Hal ini tidak sepantasnya terucap dari seorang Menkes RI. Dalam aksinya, mahasiswa mengancam bila Menkes tidak menanggapi dan merespon tuntutan orasinya, maka para calon dokter tersebut akan kembali turun ke jalan dengan melibatkan massa yang lebih besar lagi Aksi ini mengakibatkan kemacetan di sekitar Fly Over, Jl Urip Sumoharjo, Makassar, meski polisi sudah mengatur arus lalu lintas diruas jalan tersebut....

read more

Ribuan Dokter Bedah Terkonsentrasi di Pulau Jawa

SEMARANG, suaramerdeka.com - Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Indonesia (Ikabi) berkomitmen membantu pemerintah dalam mengisi kekosongan dokter ahli bedah di daerah tertinggal dan kepulauan terluar, menyusul masih terkonsentrasinya ribuan dokter spesialis tersebut di Pulau Jawa. Ketua Ikabi Prof DR Dr Paul Tahalele FCTS mengungkapkan, saat ini jumlah dokter bedah di Indonesia mencapai 3.700 orang dan hampir sebagian besar berpraktek di Pulau Jawa. ”Ikabi menyediakan diri sebagai sukarelawan daripada harus diisi dengan orang asing. Kami berharap Kementerian Kesehatan bisa memperhatikan hal tersebut karena selain dokter bedah, spesialis anestesi juga sangat kurang padahal keduanya sangat dibutuhkan,” ujar Prof Paul di sela The 19th Annual Scientific Meeting of Indonesian Surgical Association di Crowne Plaza Hotel, Semarang, Kamis (22/8). Wakil Menteri Kesehatan Prof dr Ali Ghufron Mukti MSc Ph.D yang hadir dalam kesempatan tersebut menjelaskan, sejak tahun 2008 memang sudah merekrut lewat beasiswa tugas belajar bagi sekitar 3.800 dokter spesialis. Dari jumlah tersebut, dokter bedah mencapai sekitar 300-an orang dan selepas lulus para dokter ini akan ditempatkan kembali ke daerah asalnya. ”Sejak 2008 kita sudah lakukan perekrutan beasiswa dan sekarang sudah mulai bisa dipanen hasilnya, mudah-mudahan secepatnya bisa mengakomodir kekurangan yang ada di daerah khususnya wilayah terpencil,” terang Prof Ali Ghufron. Dia menambahkan, untuk kebutuhan dokter umum diperkirakan masih terdapat kekurangan sekitar 12.000 orang. Dengan rasio ideal 1 dokter melayani 2.500 pasien, diharapkan kekurangan tersebut bisa ditutup dari lulusan kedokteran yang setiap tahunnya bisa menghasilkan 5.000-7.000 lulusan berasal dari 73 fakultas kedokteran di seluruh...

read more

Prestasi Atlet Jeblok karena Dokter Spesialis Olahraga Masih Minim?

Jakarta, Beberapa tahun terakhir, prestasi olahraga yang diraih Indonesia bisa dibilang stagnan atau mungkin malah menurun. Karena profesi atlet sangat erat dengan cedera, maka tenaga medis yang menangani juga harus mumpuni. Sayang kebutuhan tenaga ini belum banyak terpenuhi. Dalam kedokteran, ada spesialisasi yang menangani isu-isu kesehatan berkaitan dengan olahraga, yaitu kedokteran olahraga. Sayang, jumlah dokter spesialis olahraga tak banyak. Fakultas Kedokteran yang mengajarkan juga hanya ada di Universitas Indonesia (UI). “Kebutuhannya bermula dari Menpora (Kementerian Pemuda dan Olahraga) di mana ketika itu atlet-atlet hanya ditangani dokter umum yang memiliki pengalaman di bidang olahraga. Maka diajukan lah bagaimana membentuk sub kedokteran olahraga,” kata dr Michael Triangto, SpKO, dokter spesialis kedokteran olahraga dari RS Mitra Kemayoran. Di sela-sela acara pembukaan 3rd Annual Scientific Meeting of Indonesian Hip and Knee Society (IHKS) di Hotel Gran Melia, Jl H. Rasuna Said Kuningan, Jakarta, Jumat (23/8/2013), dr Michael menuturkan bahwa jumlah dokter spesialis olahraga di Indonesia kini tidak sampai 100 orang. “Kebutuhannya sebenarnya banyak. Permasalahannya adalah ketika itu kita hanya melihat kebutuhan atlet karena permintaannya dari Menpora. Sedangkan untuk pengurus cabang olahraga sendiri, tidak semua cabang memiliki dokter olahraga. Oleh karena itu perkembangan dokter olahraga di Indonesia belum begitu banyak,” terangnya. Dr Michael kini menjabat sebagai pengurus bidang olahraga PBSI (Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia) dan aktif menangani atlet bulu tangkis nasional sejak tahun 1987. Secara umum, hanya ada beberapa cabang olahraga saja yang sudah memiliki dokter spesialis olahraga, yaitu atletik, tinju, dan bulu tangkis. Permasalahan minimnya dokter olahraga ini juga bisa jadi lantaran banyak orang Indonesia yang belum gemar berolahraga. Jika menilik ketersediaan jumlah atlet dan rumah sakit olahraga, maka dr Michael berpendapat bahwa sebenarnya masyarakat umum juga perlu mulai menggiatkan olahraga. “Kalau orang tahunya olahraga harus capai, pegel, dan sakit badannya, hasilnya malah tambah sakit. Berbeda dengan atlet di mana cedera adalah bagian dari risiko yang harus dihadapi. Tugas dokter olahraga di sini adalah membatasi bagaimana cedera tidak bertambah parah. Sedangkan untuk masyarakat, tidak perlu no pain no gain, tetapi no pain but still gain,” terangnya Di sisi lain, banyak masyarakat yang belum tahu perbedaan dokter ortopedi dan dokter olahraga. Apabila seseorang mengalami patah tulang, yang berhak menangani adalah dokter ortopedi karena diperbolehkan melakukan operasi. Setelah itu, dokter rehabilitasi medik bertugas agar pasien dapat berjalan dan melakukan kegiatan sehari-hari. Peran dokter olahraga adalah ketika pasien sudah bisa bergerak, namun ingin meningkatkan kemampuan fisiknya. Definisinya adalah program pengobatan yang menggunakan olahraga terukur untuk meningkatkan derajat kesehatan seseorang atau menyembuhkan penyakit tertentu seperti sendi lutut, nyeri panggul dan nyeri pinggang. Selain itu, ternyata ada perbedaan antar dokter olahraga di tanah air dan di luar negeri. Di Indonesia, pendidikan spesialis olahraga dapat langsung diambil setelah lulus menjalani pendidikan dokter umum. Namun di luar negeri, harus mengambil ortopedi terlebih dahulu baru mengambil kedokteran olahraga. Hal ini menyebabkan sulit menentukan ada berapa banyak dokter spesialis olahraga di luar negeri. Namun dr Michael menyebutkan, jenjang pendidikan spesialis kedokteran di Indonesia serupa dengan Singapura yang juga masih mengalami kekurangan dokter olahraga. “Rasio dokter dengan masyarakat mungkin tidak akan terpenuhi, tapi dapat melayani masyarakat jika bekerja sama dengan tenaga profesional lainnya,”...

read more

1 dokter jantung di Indonesia tangani 600.000 pasien

Sindonews.com - Jumlah pasien penyakit jantung mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini berbanding terbalik dengan jumlah dokter spesialis kardiologi (jantung) yang sangat minim. “Sampai saat ini, baru ada sekitar 630 dokter spesialis kardiologi di Indonesia. Di DIY saja, hanya ada 11 dokter spesialis kardiologi,” ujar Kepala Bagian Kardiologi dan Vaskuler Fakultas Kedokteran UGM dr Hariadi Hariawan, kepada wartawan, di RSUP Dr Sardjito, Kamis (22/8/2013). Ditambahkan dia, jumlah itu sangat minim. Karena, rasio penderita penyakit jantung masih sekitar 1:600.000 jiwa. Padahal, setidaknya rasio untuk dokter spesialis kardiologi ialah 1:10.000 jiwa. Dia menambahkan, minimnya dokter spesialis jantung dikarenakan pendidikan dokter spesialis di Indonesia terpusat hanya di UI Jakarta dan Universitas Airlangga Surabaya. Jumlah lulusannya pun hanya sekitar 15-20 dokter pertahun. Menyadari kekurangan tersebut, dibukalah pusat-pusat pendidikan spesialis baru, termasuk di UGM. Saat ini, sudah ada 13 pusat pendidikan spesialis di Indonesia. “Sampai saat ini, UGM sendiri baru meluluskan lima spesialis jantung. Hal ini, bukan dikarenakan minimnya minat terhadap pendidikan spesialis jantung. Tetapi, karena masih terbatasnya pengajar dan fasilitas peralatannya,” terang dokter spesialis jantung RSUP Dr Sardjito. Menurut Hariadi, peminat terhadap pendidikan spesialis jantung di UGM justru menduduki rangking tertinggi dibandingkan spesialisasi lainnya. Namun, karena berkomitmen menjaga kualitas lulusannya, UGM hanya menerima lima mahasiswa tiap semesternya. Di lain pihak, terbatasnya dokter spesialis jantung membuat penanganan kesehatan terhadap pasien penyakit jantung dikolaborasikan dengan dokter spesialis penyakit dalam. “Pasien penyakit jantung yang melakukan perawatan di RSUP Dr Sardjito mencapai 200 pasien perhari. Dan 10-20 persen diantara pasien yang datang tiap harinya tersebut, merupakan pasien baru. Bisa dibayangkan, kebutuhan akan dokter spesialis jantung,” paparnya....

read more

Vaksin Pentavalen (DPT-HB-Hib)

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah berencana memberikan vaksin pentavalen dalam program imunisasi dasar mulai bulan Juli 2013. Vaksin pentavalen adalah vaksin dasar yang mampu mencegah lima penyakit, seperti difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, serta Hib (Haemophylus Influenza Type B). Sebelum disatukan dalam vaksin pentavalen, vaksin DPT, Hib dan hepatitis B, masing-masing diberikan empat kali sehingga bayi menerima suntikan 12 kali. Pemberian vaksin baru ini diharapkan akan mempermudah pemberian vaksin sehingga perlindungan terhadap penyakit menular pada bayi akan meningkat. “Pengenalan vaksin baru ini juga dalam rangka mempercepat penurunan angka kematian bayi dan angka kematian ibu untuk pencapaian MDG,” kata Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi di Jakarta, Kamis (18/4/13). Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes Tjandra Yoga Aditama, mengatakan pemberian vaksin pentavalen produksi Biofarma tersebut akan dimulai dalam Pekan Imunisasi Nasional di empat provinsi, yakni Jawa Barat, Bali, Yogyakarta, dan Nusa Tenggara Barat. “Vaksin ini adalah vaksin dasar sehingga gratis,” kata Tjandra dalam acara jumpa pers Champion Award for Exceptional Work in Fight Againts TB dari USAID di Kementrian Kesehatan, Kamis (18/4/13). Dalam situs Biofarma disebutkan, vaksin pentavalen berupa cairan dan diberikan dalam bentuk suntikan intramuskuler. Vaksin pentavalent diperuntukkan bagi bayi berusia dua bulan dan diberikan tiga dosis sehingga bayi hanya disuntik tiga kali dengan interval waktu minimal satu bulan. “Untuk bayi yang sudah lengkap mendapat imunisasi dasar kecuali vaksin Hib, maka bisa menunggu 1,5 tahun sebelum ditambahkan vaksin Hib,” kata Kasubdit Imunisasi Kemenkes, Sandra, dalam kesempatan yang sama. Infeksi kuman Hib sangat berbahaya karena menimbulkan obstruksi saluran napas, septic arthritis, nyeri sendi. Selain itu, menyebabkan infeksi kulit yang biasanya terdapat pada wajah, kepala atau leher, pneumonia, demam, serta sesak napas. Sandra menambahkan, penambahan vaksin Hib juga bertujuan untuk menekan jumlah anak yang menderita pneumonia (radang paru) yang merupakan penyebab kematian balita kedua di Indonesia. Pneumonia menyebabkan gangguan pada saluran pernapasan sehingga bisa mengakibatkan kematian karena paru-paru tidak dapat menjalankan fungsinya untuk mendapatkan oksigen bagi tubuh.   Jakarta, Pemberian imunisasi untuk anak sudah tidak dipungkiri lagi pentingnya. Dengan adanya vaksin baru yaitu Pentavalen (DPT-HB-Hib), maka bisa dipastikan akan ada perubahan pada pemberian jadwal imunisasi anak. Sasaran imunisasi untuk anak dikategorikan menjadi 2, yaitu untuk bayi dan batita. Untuk bayi, imunisasi yang diberikan merupakan imunisasi dasar yang terdiri atas Hepatitis, BCG, Polio 1-4, Pentavalen (DPT-BH-Hib), dan campak. Pembagiannya sesuai dengan usia bayi dibagi menjadi sebagai berikut: - Bayi berusia 0 bulan diberikan imunisasi Hepatitis B 0 - Bayi berusia 1 bulan diberikan imunisasi BCG dan Polio 1 - Bayi berusia 2 bulan diberikan imunisasi DPT-HB-Hib 1 dan Polio 2 - Bayi berusia 3 bulan diberikan imunisasi DPT-HB-Hib 2 dan Polio 3 - Bayi berusia 4 bulan diberikan imunisasi DPT-HB-Hib 3 dan Polio 4 - Bayi berusia 9 bulan diberikan imunisasi campak Sedangkan untuk batita, imunisasi yang diberikan merupakan imunisasi lanjutan. Imunisasi lanjutan ini tak kalah pentingnya untuk pencegahan penyakit pada anak. Untuk imunisasi lanjutan, anak akan diberikan DPT-HB-Hib dan campak. Pembagian imunisasi lanjutan untuk usia batita dibagi menjadi sebagai berikut: - Batita berusia 18 bulan (1,5 tahun) diberikan imunisasi DPT-HB-Hib (minimum berjarak 12 bulan dari DPT-HB-Hib dosis terakhir) - Batita berusia 24 bulan (2 tahun) diberikan imunisasi campak (minimum berjarak 6 bulan dari campak dosis pertama) Lantas mengapa anak perlu diberikan imunisasi DPT-HB-Hib lagi? “Perlu diberikan booster atau tambahan berupa imunisasi lanjutan DPT-HB-Hib pada saat anak berusia 18 bulan atau 1,5 tahun. Sebab kekebalan yang terbentuk setelah pemberian DPT-HB-Hib 3 dosis sebelumnya akan menurun pada saat anak mencapai usia 15 bulan sampai dengan 1,5 tahun,” ungkap Prof Dr dr Sri Rezeki S. Hadinegoro, SpA(K), Ketua Satgas Imunisasi IDAI, dalam press briefing yang disampaikan di Gedung Kemenkes RI, Jl HR Rasuna Said, Jakarta,...

read more
error: Content is protected !!