Sarjana Sosial Jadi Dirut RS, Dokter Protes
TEMPO.CO, Tangerang Selatan - Puluhan dokter di Rumah Sakit Umum Daerah Tangerang Selatan melakukan aksi demo hari ini, Jumat, 20 September 2013. Mereka memprotes penunjukan Direktur RSUD Tangerang Selatan yang bukan dari kalangan tenaga medis. Para dokter menilai pengangkatan Direktur RSUD Tangerang Selatan Neng Ulfa yang lulusan sarjana sosial melanggar peraturan pemerintah, peraturan Menteri Kesehatan dan Undang-Undang Rumah Sakit. Menurut mereka, seluruh peraturan itu sudah menegaskan bahwa seorang direktur rumah sakit harus berasal dari kalangan tenaga medis. “Kami hanya ingin meluruskan kesalahan dan pelanggaran regulasi ini,” kata Ketua Komite Medis RSUD Tangerang Selatan, Daniel Richard, kepada Tempo, Jumat, 20 September 2013 pagi ini. Menurut Daniel, dengan dipimpin oleh seorang yang bukan dari kalangan tenaga medis, sulit bagi para dokter di rumah sakit milik Pemerintah Daerah Tangerang Selatan itu untuk melakukan koordinasi dan komunikasi. “Sejak awal memang sudah agak sulit nyambungnya. Lama-kelamaan emosi kami memuncak karena sulit berkoordinasi dan berkomunikasi dengan seorang pemimpin yang bukan dari kalangan dokter,” kata Daniel lagi. Pengangkatan direktur rumah sakit yang bukan dari kalangan tenaga medis, menurut Daniel, menimbulkan banyak kesalahan manajemen di RSUD Tangerang Selatan. Ini membuat kalangan dokter menjadi tidak nyaman dan akhirnya memutuskan mengambil sikap dengan memprotes melalui aksi...
read moreDokter RS Kota Tangerang Selatan Tolak Dokter Asing
TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com - Sekilas, Rumah Sakit Umum Kota Tangerang Selatan tampak beraktivitas seperti biasa. Namun, Jumat (20/9), rupanya gejolak terjadi di rumah sakit yang terletak di Jalan Pajajaran, Pamulang, itu. Gejolak itu terjadi ketika 20 dokter di RSU Kota Tangsel ini melakukan aksi semacam “unjuk rasa”. Para dokter itu berbondong-bondong dari RSU Kota Tangsel menemui Wakil Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie yang tengah menghadiri sebuah acara di Kompleks Puspiptek, Setu. Mereka ingin bertemu Benyamin Davnie untuk menyampaikan tuntutan. Tuntutan para dokter itu muncul akibat adanya sejumlah kejanggalan yang mereka rasakan dalam pengelolaan rumah sakit yang sampai saat ini sebagian gedungnya masih dalam proses penyelesaian. Di antara tuntutan itu, para dokter RSU Kota Tangsel menolak keberadaan dokter asing dan mendesak pergantian direktur rumah sakit, yang mereka sebut penempatannya menyalahi aturan. “Kami menolak adanya dokter asing karena ilegal dan tidak sesuai prosedur. Kami juga menilai, penempatan direktur rumah sakit ini harus memiliki kompetensi dari tenaga medis,” kata juru bicara para dokter RSU Kota Tangsel, dr Arif Kurniawan, SpOG, di Gedung Graha Widya Bhakti, Puspiptek, seusai bertemu Benyamin. Meski para dokter sedang melancarkan protes, pelayanan di rumah sakit tersebut tetap berjalan seperti biasanya. Menurut Arif, aksi itu merupakan akumulasi dari berbagai persoalan yang muncul di rumah sakit tempatnya bertugas. Ia menyebut, penempatan tenaga dokter asing harus melalui persetujuan dari Konsil Kedokteran Indonesia dan Ikatan Dokter Indonesia. Arif mengungkapkan, Dinas Kesehatan Tangsel beralasan, keberadaan dokter asing itu hanya untuk melakukan transfer ilmu. Namun, kenyataannya, mereka juga melakukan tindakan medis. “Padahal, penanganan medis masih bisa dilakukan tenaga dokter kita sendiri,” ucap Arif. Para dokter, lanjut Arif, juga tidak sepakat dengan penempatan orang nomor satu di RSU Kota Tangsel yang bukan berasal dari disiplin ilmu dan kompetensi bidang medis. Menurut Arif, Neng Ulfa, yang kini menjabat Direktur RSU Kota Tangsel, merupakan lulusan sarjana ilmu sosial. Menurut dia, ketentuan bahwa seorang direktur rumah sakit harus lulusan ilmu kedokteran telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 471 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit. Arif menyebut, tidak kompetennya direktur rumah sakit bisa berbuntut pada pelayanan rumah sakit yang buruk. “Pelayanan pada pasien bisa terganggu jika tidak kompeten. Kami bukan melawan kebijakan, tetapi hanya ingin meluruskan yang seharusnya dilakukan,” katanya. Neng Ulfa, yang juga hadir di Puspiptek, mengatakan, ia hanya menjalankan tugas yang diberikan pimpinan sebagai direktur di RSU. Menurut dia, selama ini tidak ada masalah antara ia dan para dokter dalam pekerjaan sehari-hari. “Soal medis, para dokter yang menangani, jadi tidak ada masalah sebenarnya,” kata Ulfa. Wali Kota Benyamin Davnie mengatakan, para dokter itu intinya menuntut penyempurnaan sistem pelayanan di RSU Kota Tangsel. Mengenai penunjukan direktur RSU, Benyamin mengatakan, tuntutan dokter itu akan diperhatikan. “Untuk direktur, ini menjadi catatan dan perhatian, pada saatnya akan ditempatkan sesuai peraturan,” katanya. Menurut dia, penempatan direktur saat ini terjadi dalam situasi yang mendesak karena keterbatasan tenaga medis, sementara proses pembangunan gedung RSU Kota Tangsel sampai saat ini masih berjalan. “Ini ada kaitan dengan RSU masih dibangun, operasional gedung masih ditangani dinas kesehatan. Kalau urusan medis, tentu menjadi pekerjaan tenaga medis. Yang tidak boleh dicampuri adalah pekerjaan medis. Dinkes hanya menangani proyek pembangunannya, RSU masih dibangun, jadi supaya fokus melayani masyarakat,” kata Benyamin. Tangsel telah menggratiskan pelayanan kesehatan di rumah sakit ini bagi pemegang KTP Tangsel. Namun, pasien tidak bisa langsung datang ke RSU karena harus mendapat rujukan terlebih dulu dari puskesmas setempat. (RAY) Sumber : KOMPAS...
read moreInfo Uji Kompetensi Retaker Khusus
Berdasarkan hasil keputusan Rapat Pleno PB lDl tanggal 19 September 2013. Bersama ini kami sampaikan beberapa hal terkait pelaksanaan Uji Kompetensi retaker Khusus ; 1. Uji Kompetensi Retaker Khusus Periode I yang sebelumnya terjadwal pada tanggal 21 September 2013, berdasarkan pertimbangan hasil evaluasi proses pendataan,pre test, bimbingan dan pos test maka pelaksanaan ujian Retaker khusus periode I ditunda hingga tanggal 5 Oktober 2013. 2. Metode ujian menggunakan 2 pilihan, yaitu CBT (Computer Base Test) atau PBT (Paper Base Test), tergantung kesiapan panitia daerah serta meminimalisir masalah tehnis yang ditimbulkan ketika ujian. 3. Materi ujian akan diteliti bersama terlebih dahulu oleh Panitia UKRK yang terdiri dari divisi manajemen dan divisi ujian sebelum diujikan. 4. Penetapan batas angka kelulusan Uii Kompetensi Retaker Khusus ditentukan oleh pimpinan PB lDl dan pimpinan...
read moreWeb Baru Konsil Kedokteran Indonesia (KKI)
Web Baru KKI. Berdasarkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia No. 28/PER/M/KOMINFO/9/2006 tentang Penggunaan Nama Domain go.id untuk Situs Web Resmi Pemerintahan Pusat dan Daerah, maka dengan ini menyatakan bahwa Situs Web Konsil Kedokteran Indonesia adalah www.kki.go.id Jakarta, 2 September 2013 Konsil Kedokteran Indonesia Ketua, Prof. Menaldi Rasmin, dr,...
read moreKetua IDI Ingin Ciptakan Dokter Kelas Bintang Lima
Intisari-Online.com – Menyongsong diberlakukannya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)dengan Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan sebagai pengelolanya di Januari 2014, ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Zaenal Abidin, berbagi cita-cita untuk mengembalikan kepemimpinan dokter di masyarakat. Simak bagaimana caranya seperti dituturkan kepada Lily Wibisono dan Mohamad Takdir berikut ini. — Kalau saya ditanya, bagaimana persepsi masyarakat terhadap dokter masa kini, saya akan menjawab, bagi masyarakat Indonesia hari ini, dokter adalah tukang-tukang yang disewa jasanya untuk menyembuhkan penyakit. Para dokter adalah sekadar agent of treatment. Maka saya terkenang pada peristiwa di Gedung Stovia, pada suatu hari Minggu, 20 Mei 1908. Pada hari itu Soetomo, Suraji Tirtonegoro, Gunawan Mangunkusumo, Muh. Saleh dan kawan-kawan mendirikan Perkumpulan Boedi Oetomo. Sebuah perkumpulan yang diilhami oleh ide-ide dr. Wahidin Soedirohusodo dan dr. Tjipto Mangoenkoesoemo. Maka bukannya mengada-ada bila sejak tahun 2008, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencanangkan 20 Mei tidak hanya sebagai Hari Kebangkitan Nasional, tapi juga sebagai Hari Bakti Dokter Indonesia. Berkaca pada peristiwa tersebut, seyogianya dokter masa kini tidak membatasi kiprahnya hanya di antara dinding rutinitas profesionalisme sempit. Peran dan kepeloporannya yang memadukan tugas agent of treatment, agent of change, dan agent of development sangat dinantikan. Tahun 1994 WHO mengidentifikasikan dokter dengan peran seperti ini sebagai The Five Stars Doctors, Dokter Kelas Bintang Lima. Dokter yang berperan sebagai pemimpin komunitas, komunikator, manajer, pengambil keputusan, dan pemberi layanan kesehatan. Mengadakan dokter-dokter kelas bintang lima membutuhkan lingkungan dan proses kerja yang mendukung. Dibutuhkan pengkondisian yang pas, dalam tubuh para dokter sendiri maupun di luar dunia kedokteran. Yang mendasar, bagaimana kesehatan diposisikan dalam pembangunan nasional? Apakah kesehatan sudah dipandang sebagai unsur utama ketahanan nasional? Cara pandang yang memandang kesehatan sebagai pengobatan saja (paradigma “sakit”) dan hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan, tidak akan mungkin dapat menempatkan kesehatan sebagai faktor utama dalam pembangunan nasional. Untuk melayani 240 juta penduduk idealnya dibutuhkan 80.000 dokter pelayanan primer (DPP, dokter umum) dan ± 40.000 fasilitas kesehatan primer (puskesmas dan fasilitas kesehatan swasta, yaitu klinik atau praktik mandiri para dokter). Di seluruh Indonesia jumlah puskesmas hanya sekitar 9.000-an. Menurut Riset Fasilitas Kesehatan tahun 2011, masih banyak puskesmas yang berada di bawah standar. Hal tersebut karena sarana, prasarana, SDM dan proses yang diperlukan untuk keberhasilan fungsi puskesmas masih jauh dari harapan. Belum lagi masih ada perbedaan amat besar di berbagai kota, desa dan daerah. Banyak puskesmas yang belum memadai fasilitasnya bagi praktik seorang dokter. Percayakah Anda, buku Pedoman Pelayanan Puskesmas saja belum tersedia di semua...
read more




